Ahlan wa Sahlan Sahabat FSI Al-Biruni..
Tampilkan postingan dengan label opini mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Muslim Adventure, Awalku Ber ”Hijrah” A Story by "Al" [Part 1]

Loe ikut MA ?" 
“ Eh, ikut MA yuk ! “
“ Ngapain ikut MA ? Ih, acara nginap-nginap gitu kan biasanya dimarah-marahin. Dibentak-bentak. Jangan-jangan itu ospek atau acara kayak LDKS..ogah dech gue !”
“ Ato ikut MA, Dik, biar Adik bias mendapatkan teman-teman baru, lintas jurusan lho! Seru dech !” 
“ Hmm..ikut MA nggak ya..” 
“ MA itu..”

Dan bla bla bla..... Itulah yang kudengar di hari-hari menjelang MA 2014. Kalian tahu MA itu apa ? Belum tahu ? MA adalah singkatan dari Muslim Adventure, sebuah event besar yang diselenggarakan oleh FSI Al-Biruni, dan merupakan agenda wajib yang diikuti mahasiswa baru atau nama unyu-nya “maba”. Okay back to the topic~

Ya, segala macam omongan tentang MA selalu terngiang kala MA semakin dekat. Ada yang bimbang, ada yang menghasut untuk tidak ikut, ada yang menghasut untuk ikut, ada yang berkata buruk tentang MA, ada yang berkata baik tentang MA, ada yang antusias mengikuti MA, dan sebagainya. Aku ? aku lebih memilih bersikap netral waktu itu. Tidak menghasut teman-teman untuk ikut/tidak ikut MA, tidak antusias, tidak pula bimbang. Biasa, netral, datar. Nothing special. Yang aku tahu hanyalah, aku HARUS mengikuti MA karena itu agenda WAJIB untuk maba. Yup, aku pernah menjadi maba (ya iyalah ! ), dan aku pun pernah sepolos dan se-menggemaskan maba (plakk !). Di saat aku tengah asyik melamun, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dengan cukup keras ( yeah CUKUP keras ! ) hingga hampir saja tubuhku jatuh dengan indahnya ke lantai dingin nan beku. 

“ Hai, Al ! Udah daftar MA ? “ tegur Farah (nama disamarkan) teman sekelasku.

Yup ! Itulah namaku, Al (nama disamarkan). Aku dari prodi Pendidikan Tata Boga, angkatan 2014. Dan sebelum aku melanjutkan cerita, perlu digarisbawahi (ditebalkan juga kalau perlu), aku ini adalah seorang perempuan (bisa saja kan ada yang mengira “Al” itu laki-laki ?). Okay, kita lanjutkan  ceritanya..

“ Udah dong.  Loe ? “ jawabku.“ Sama, gue juga udah.” Dan percakapan pun berlanjut dengan percakapan biasa (natakuliah, tugas, dan lainnya).

Beberapa hari kemudian, tibalah Pra MA (masa sebelum Muslim Adventure yang sebenarnya dimulai, dapat dikatakan briefing ). Dan jujur, di kala itu aku benar-benar merasa kecewa.. Mengapa ? Karena 85% dari teman-teman kelasku yang telah mendaftar MA berkata di grup kelas bahwa mereka tidak akan datang ! Hmm..bukan karena itu juga sih lebih tepatnya, lebih tepatnya karena teman-teman dekatku konfirmasi kepadaku bahwa mereka juga tidak ada yang datang sama sekali, termasuk Farah..hafftt... Dan mereka memberikan konfirmasi itu ketika aku sudah sampai di kampus. Ulala~ what a life !

Ya sudah..akhirnya aku tetap berinisiatif ikut Pra MA dan mengurungkan niatku untuk kembali ke rumah. Sudah kepalang basah juga.. Aku berjalan menuju Masjid Nurul Irfan (MNI..atau nama beken-nya meni), untungnya aku sudah membuat janji dengan salah satu teman sekelasku (hubunganku dengannya tidak terlalu dekat di kala itu, tapi justru anak ini akan menjadi salah satu teman baikku ) yang bernama Ratna (nama disamarkan). Ketika kaki ini telah berpijak di lantai MNI yang sejuk , tatapanku pun sontak terjatuh kepada sosok Ratna yang ditemani oleh seorang gadis berkacamata dan berhijab syar’i seperti Ratna. Entah perasaan dan angin apa yang masuk ke dalam jiwa, tiba-tiba ada keinginan kuat untuk memperbaiki hijabku yang masih “berantakan”di hadapan Allah. (Eh, ngerasa nggak sih tiba-tiba kata-katanya jadi rada puitis gitu ? Nggak ngerasa ? Yaudah lanjut lah..). Mood-ku yang tadinya agak kacau, tiba-tiba membaik kala melihat gadis-gadis berpakaian syar’i di depanku ini. Ah ya, aku lupa memperkenalkan si gadis berkacamata. Namanya adalah Dinda, ia dari prodi Pendidikan Tata Busana. Cukup lama kami mengobrol dan saling lebih mengenal satu sama lain, hingga akhirnya kami pun segera menuju gedung FIP, tempat berkumpulnya seluruh peserta MA. Tak banyak rangkaian acara yang dilakukan pada Pra MA. Namun setelah datang ke Pra MA, pikiran "Ikut MA karena wajib" tiba-tiba mulai berubah menjadi "Aku tak sabar ikut MA, aku tak sabar menikmati keseruan dan seluruh rangkaian acara MA" . Apa yang membuatku berubah pikiran seperti itu ? Jawabannya sangat sederhana : ikatan persaudaraan. Kuatnya ikatan persaudaraan yang diciptakan oleh kakak-kakak panitia kepada para peserta saat Pra MA, membangkitkan hasrat untuk terus bersama mereka (para peserta MA dan para panitia MA) hingga seluruh rangkaian MA berakhir. Ikatan persaudaraan sesama muslim, atau yang disebut dengan Ukhuwwah inilah hal pertama yang paling berkesan untukku. Dan ikatan inilah yang membuat pikiranku pertama kali ber"hijrah" dari sisi abu-abu, ke sisi yang lebih berwarna dan penuh kepastian. Kalian ingat keinginanku untuk men-syar'i-kan penampilan ? Ya, ikatan ini pula yang menguatkanku untuk ber"hijrah" dari celana jeans ke rok panjang, kerudung pendek menerawang ke kerudung lebar dan tebal. Yup, ini baru awal lho sahabat. Belum masuk kepada acara MA yang sesungguhnya. Sekali lagi, baru awal~

Next.. Menghitung hari detik demi detik, pertama kalinya aku benar-benar senang menunggu hadirnya sesuatu. Dengan sabar dan dengan hati yang penuh keceriaan bak gadis kecil yang manis dan polos tak bersalah (hoek...), aku setia menanti terselenggaranya Muslim Adventure 2014. Dan akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu : Hari H Muslim Adventure 2014, finally~ . Kira-kira..apa saja ya yang akan dilakukan di hari H MA ? Apakah akan seru ? Akankah ada sesuatu yang menarik ? Penasaran ? Kita tunggu kelanjutan ceritanya di part 2 ~ Sampai berjumpa lagi ! Stay tune ! ^^

Story By ~ "Al"

Bermanfaat, karena Bersahabat..

Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma Shalli `ala Muhammad

Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi, Allah telah mempersatukan hati mereka.” (Q.S. Al-Anfal: 63)

Jika hati-hati setiap kita sudah terhimpun pada Yang Satu, Yang Esa, Allah SWT., maka yang terlintas dalam pikiran setiap saat adalah bagaimana kita bisa selalu memberi bentuk penyembahan terbaik untuk-Nya, Allah SWT.
Dalam setiap perjuangan, apapun itu, pasti membutuhkan suatu media atau wadah yang dapat menjadi sarana yang bisa menyalurkan potensi dengan optimalisasi daya dan upaya yang terarah dan teratur. Misal, perjuangan kita untuk membuktikan seberapa cerdasnya kita dalam bidang pendidikan bisa disalurkan dan dibuktikan dengan adanya lembaga pendidikan formal yaitu sekolah dengan berbagai tingkatannya. Lain hal, perjuangan kita untuk bisa membuktikan seberapa tangguh kemampuan kepemimipinan, politik, dsb, salah satunya bisa disalurkan dengan adanya parpol-parpol bergengsi di negeri ini. Lalu, jika kita bicara mengenai perjuangan dakwah islamiyah, adakah medianya?

FSI Al-Biruni merupakan Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) yang dimiliki Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta. Disinilah, para pemuda islam, pejuang kebenaran, mahasiswa muslim/ah FT UNJ yang hati-hatinya selalu berusaha untuk terus berhimpun kepada Allah SWT., akan merasa memiliki ‘rumah kedua’ yang bisa dijadikan wadah untuk menyalurkan dakwah islamiyah. Ketika kita berbicara mengenai rumah, maka di dalamnya kita akan senantiasa menemukan kenyamanan, ketentraman, dan ketenangan jiwa, dan FSI Al-Biruni memiliki kriteria tersebut.
FSI Al-Biruni adalah salah satu tempat atau wadah bagi mereka yang hatinya (insyaAllah) berusaha selalu untuk bisa bermuara pada Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. FSI Al-Biruni adalah sebuah media, yang dengan segala kesederhanaan tempat, kesederhanaan jajaran pengurus, kesederhanaan program-program kerja, mampu menampilkan ‘kemewahan’ pelayanan umat yang sangat mencerminkan Islam seutuhnya. Persaudaraan, perpolitikan, bahkan cinta, akan mudah sekali ditemukan di tempat itu. 3 kata tersebut, sangat berjauhan maknanya, tapi akan terasa dekat bahasannya jikat berada di lingkaran FSI Al-Biruni.

Dengan Persaudaraan, Semua Berawal..

Persaudaraan, atau yang lebih kita kenal sebagai ukhuwah islamiyah, adalah salah satu indikator terbesar yang menjadikan FSI Al-Biruni benar-benar menjadi ‘forum islam’ seutuhnya. Ketika kita membangun sebuah rumah mewah tingkat 5, akankah bertahan lama rumah tersebut jika tak ada semen sebagai perekat antara satu bata dengan yang lainnya ? Tidak. Ketika sobekan rupiah seratus ribu hendak dibelanjakan di supermarket, akankan si kasir menerima uang tersebut? Tidak, melainkan harus disatukan terlebih dahulu dengan sobekan lainnya menggunakan sebuah perekat. Lalu, ketika kita berlari dalam keadaan sepatu kanan belum diikat talinya, apakah akan terasa nyaman? Lagi-lagi, tidak kawan. Nah, disinilah analogi makna persaudaraan terbentuk. Persaudaraan tak jauh dari sebuah perekat yang jika tidak diperhatikan dengan saksama, maka tak akan ada artinya rumah setinggi apapun, uang setinggi apapun nilainya.
Coba bayangkan, siapa yang tak ingin memiliki rumah bertingkat. Hampir setiap kita mendambakannya. Namun, jika rumah tersebut tidak dibangun dengan pondasi yang kuat, akankah kita tetap mendambakannya?.

FSI Al-Biruni adalah rumah bertingkat yang memiliki persaudaraan (ukhuwah islamiyah) sebagai pondasi pengokohnya. Di dalamnya terhimpun umat-umat Rasul yang menjadikan satu sama lain sebagai saudara seiman. Karena, ya, firman Allah SWT. sangat jelas mengatakan bahwa sungguh tiap mukmin adalah bersaudara.

“Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan. Dengannya Allah persatukan hati-hati berserakan. Saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati.” –Sayyid Qutb-

Semakin tinggi sebuah bangunan, maka angin yang menerpa akan semakin besar. Maka jelas, persaudaraan sebagai pengokoh ukhuwah islamiyah haruslah kental dan terikat kuat sampai ke dasar agar ‘bangunan’ yang kian di bangun tak perlu menghiraukan angin, sekencang apapun itu. Dan, FSI Al-Biruni haruslah memiliki pondasi kuat tersebut. Ketika para mujahid di dalamnya memiliki rasa persaudaraan yang tinggi, yang mengindikasikan saling memiliki rasa kepercayaan antara satu dengan yang lain, maka jangan heran kebersamaan persaudaraan tersebut akan menghantarkan pada kejayaan perjuangan Islam, yang notabene adalah cita-cita umat muslim di dunia yang hendak dicapai, kembali. (Ya, karena dulu Islam pernah jaya, dan pada akhirnya memang hanya Islam-lah yang akan berjaya.)
Persaudaraan terjalin karena kita memiliki tujuan ataupun misi yang sama, hidup mulia atau mati syahid. Islam akan berjaya dengan atau tanpa kita. Tapi, akankah kita berjaya tanpa Islam? Tidak.. karena hanya Islam fikrah yang Allah SWT sampaikan pada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat-Nya, Jibril. Maka, ketika kita memiliki tujuan yang sama, dengan sendirinya akan tercipta ukhuwah islamiyah yang semata-mata hanya mengharap ridha Ilahi. Inilah yang dimaksud mengapa persaudaraan dinilai sebagai indikator terbesar terbangunnya FSI Al-Biruni yang madani.
Lalu, contoh lain, bayangkan jika kita adalah orang yang berlari dengan tali sepatu yang tidak terikat dengan baik. Ya, jatuh adalah konsekuensi pasti yang didapat orang tersebut. Dalam membangun sebuah organisasi, kita pasti tidak ingin gagal dan terjatuh. Maka, solusi pastinya adalah, lagi, perkuat barisan persaudaraan, pererat ukhuwah Islamiyah. Di sinilah kembali saya menyatakan, bahwa FSI Al-Biruni merupakan wadah terbaik dalam mempersahabatkan insan-insan yang terlibat di dalamnya. Dengan tetap meluruskan niat, bahwa hanya Allah satu tujuan.

Politik, penuh taktik menggelitik..
FSI Al-Biruni layaknya miniatur pemerintahan yang dalam menjalankan tugasnya diselipkan strategi-strategi politik untuk mencapai visi dan misi yang hendak dicapai selama masa kepengurusan. Pastinya, para ‘politikus-politikus’ handal yang menjalankan roda pemerintahan FSI Al-Biruni adalah para pemuda-pemudi yang mumpuni di bidangnya. Mereka adalah insan-insan terpilih yang hatinya terpanggil untuk melayani umat dengan sepenuh kemampuan yang ada. Perlu dipahami bahwa Islam tidak hanya membatasi pembahasannya sebatas ritual ibadah yang bersifat ruhaniyah. Bahasan Islam sangat menyeluruh meliputi segala aspek, termasuk aspek perpolitikan. Rasulullah SAW. pun bersama para sahabatnya, dalam menjalankan dakwah islamiyah sungguh dirancang dengan strategi yang penuh pertimbangan, dan diselipi dengan strategi politik yang penuh taktik baik.
Maka di tempat ini, kita diajarkan bagaimana cara berpolitik dengan baik, bagaimana cara mengatur diri sendiri maupun orang lain, bagaimana cara berdakwah dengan penuh strategi agar risalah Islam tersampaikan dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa politik disini (insyaAllah) berbeda dengan politik pemerintahan yang dewasa ini terkesan penuh tatik licik dan menggelitik. Permainan politik kita coba jalankan disini dengan tetap berlandaskan Islam yang kaffah, Islam yang menyeluruh tanpa melihat background ras maupun aspek-aspek pembeda lainnya. Berbeda dengan politik pemerintahan kita yang sekarang ini terkesan melihat siapa atau apa backgroundnya.

Adanya FSI Al-Biruni semoga bisa melahirkan politikus-politikus handal yang qurani dan islami sehingga nantinya bisa menjalankan roda pemerintahan yang makmur sejahtera, ke arah Islam yang jaya..

Cinta, Di sini kita Menuai..
Sejumlah cinta telah terukir
Senada peluh perjuangan tiada akhir
Cinta, di sini kita menuai
Benih-benih muncul kepermukaan
Cinta-Nya merasuk hingga ke jiwa
Ketika hati berpaut, pada Allah, sang Tuhan Maha Cinta..

Ya, di tempat ini, tiada keraguan bahwa di sini begitu sesak dengan cinta-cinta sang hamba pada tuhannya. Di sini, para pencinta Allah azza wa jalla saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Di tempat ini, kita saling berebut cinta-Nya. Berharap satu, syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Begitu banyak nilai positif yang diberikan di tempat ini. Semua perindu syurga saling melebihkan nilai-nilai ibadahnya. Saling bertukar pendapat, mendirikan majelis-majelis ilmu, menjalankan segala kegiatan dengan harapan mendapatkan rahmat dan ridha-Nya. Tak salah, jika cinta-Nya bertebaran, dan hamba-hamba-Nya saling berebutan, karena memang tempat ini  tempat kebaikan, InsyaAllah.
Ditempat ini, cinta menuai indah. Cinta pada sang Khalik semata. Dan cinta pada sesama..
Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

Kekurangan ada untuk dilebihkan..
Dalam berdakwah, istiqomah adalah kuncinya. Ketika kita terbentur satu kekurangan, jika istiqomah di tangan, maka tak perlulah risau akan halangan. Tak dipungkiri, ada banyak kekurangan FSI Al-biruni dalam pelayanan dakwahnya. Mungkin dari sisi pemahaman jajaran pengurus yang berbeda-beda, pelayanan fasilitas yang terbatas, ketidakselarasan komunikasi antara sang ikhwan dan sang akhwat (karena mungkin hijab, insyaAllah), dan lain hal sebagainya yang membuat banyak rekan-rekan diluar sana mungkin menganggap FSI Al-Biruni merupakan organisasi yang masih berkembang, belum maju. Tapi, apalah pentingnya arti maju dan berkembang jikalau jajaran pengurus sudah kepalang cinta akan tempat ini, segala kekurangan yang ada akan terlihat tidak mengganggu, bahkan kekurangan tersebut ada untuk dilebihkan menjadi sebuah pemacu semangat berdakwah. Ketika kekurangan yang ada dijadikan cemoohan bagi ‘mereka’ di luar sana, tapi bagi kita yang menjalaninya, cemoohan tersebut bagai kritik membangun untuk terus mengoreksi perjalanan dakwah ini.
Maka, jangan biarkan cemoohan mereka mengisi kekosongan jiwa dan raga sehingga membuat diri lemah dan tak semangat berdakwah.
Karena sejatinya, “Dakwah adalah cinta,” kata Rahmat Abdullah, “dan cinta akan meminta semuanya darimu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.”

Maka, tak ada waktu untuk mendengarkan hardikan mereka, cemoohan mereka, tentang perjalanan dakwah ini.

Cukuplah Allah tujuan kita, Rasul teladan kita, Islam segala tata aturan kehidupan kita, dan Dakwah, sebagai perjalanan serta kebutuhan kita..

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S Al-Imran: 104)

Ingatlah selalu, lelahmu dalam perjuangan ini insyaAllah dinilai sebagai pemberat amal ibadah mulia dihadapan-Nya, InsyaAllah, aamiin.
Wallahu wa Rasuluhu alam bish showab, wal ‘afuminkum.


Nadya F. Fidhyallah
Dept. Kaderisasi FSI Al-Biruni 2012

FSI Al Biruni -Sahabat Sejatimu- ^^


Bismillah..
Orang baik dikatakan baik bukan ketika tingkah lakunya baik, atau sebaliknya. Tapi orang baik dikatakan baik jika memenuhi syarat berikut, “ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila dia buruk maka buruklah seluruh jasad. Ketahuilah, dia adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Pernyataan luar biasa dari sosok yang sangat luar biasa yang telah menjelaskan pada kita bahwa baik bukan ketika tingkah laku atau perbuatan kita baik, tapi ketika segumpal daging tersembunyi kita juga dalam keadaan baik. Pengelompokan suatu tindakan untuk menjadi baik lebih bersifat subjektif, tergantung penilaian personal. *Semoga pengurus FSI baik-baik J*
Organisasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, organisasi merupakan : 1 kesatuan (susunan dsb) yang terdiri atas bagian-bagian (orang dsb) dalam perkumpulan dsb untuk tujuan tertentu; 2 kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pengertian tersebut terlihat bahwa organisasi berorientasi pada tujuan tertentu dan tujuan bersama. Kombinasi yang menarik. Mungkin akan lebih menarik jika organisasi tersebut dijalankan oleh pelaku yang punya sifat dan kemampuan yang juga berbeda.
FSI Al Biruni FT UNJ
Merupakan lembaga dakwah tingkat fakultas yang berada di Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta. Bersifat mandiri, independent, dan fleksibel. FSI Al Biruni juga punya visi dan misi yang jelas dalam menjalankan kewajibannya. Jadi organisasinya nyata, punya sekretariat, punya pengurus, dan tidak hanya menampakkan diri di dunia maya.
Begitu banyak mahasiswa yang awalnya ingin bergabung kemudian menjadi segan hanya karena beberapa hal yang sepele. Mungkin nama ‘FSI’nya yang terkesan ke-Islam-an, atau FSI-nya lebih bersifat dakwah sehingga merasa belum pantas dan masih perlu berbenah. Check this out ! J
Berbenah memang harus diawali dari diri sendiri, lalu orang terdekat, kemudian masyarakat dan lingkungan. Tapi tidak perlu membenahi diri sendiri secara sempurna sesempurna mungkin baru mau berani membenahi lingkungan. Banyak pernyataan sejenis itu yang menjadi alasan ketika seseorang diajak menjadi pengurus FSI. “Belum siap aja. Diri sendiri aja belum bener”, kata seorang teman ketika saya mengajaknya untuk menjadi pengurus. Sekedar informasi untuk anda sekalian, FSI menyediakan berbagai sarana untuk anda mengembangkan diri. FSI punya departemen Syiar yang bergerak dalam bidang menyiarkan dakwah, departemen Keilmuan yang memfasilitasi pengurus untuk semangat berkarya dengan nilai keislaman, dan departemen lain yang tidak kalah luar biasanya. Program kerja maupun sekedar kegiatan rutin di FSI secara langsung memfasilitasi setiap orang untuk terus berbenah. Tidak perlu repot-repot mengikuti banyak organisasi jika ingin mengembangkan diri, karena FSI menyediakan sarananya, InsyaAllah. Dengan pengurus yang masing-masing memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda, maka akan semakin banyak aspirasi yang tertuang dengan tujuan bersama..
Belajar berbenah diri sambil berdakwah. Karena berbenah itu proses yang kontinyu, terus menerus tanpa berhenti. Sambil berbenah, maka berdakwahlah. Berdakwah itu mengajak pada kebaikan, sekalipun hanya sekedar obrolan sederhana. Jika ada pendapat yang menyatakan bahwa orang-orang yang berdakwah itu hanya sekedar omongan, sepertinya pernyataan itu harus diiringi dengan penjelasan berikut. Omongan baik itu memiliki banyak arti, bahkan sudah termasuk tanda dari iman. Rasulullah bersabda bahwa “man kaana yu'minu billahi wal yaumil aakhir,fal yaqul khairan au liyasmut”, yang artinya barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari & Muslim). Menganjurkan orang lain untuk berbuat baik, sama artinya dengan memberi dorongan dan motivasi, atau mungkin memberi energi agar orang yang menerimanya mau melaksanakan kebaikan. Bila ini dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk menciptakan kesan “manis dimuka tidak aslinya”, maka pasti baru berkata saja pun baik, apalagi bila ditambah dengan amalnya.
FSI yang lahir di tengah lingkungan dengan orang-orang yang sifatnya heterogen menuntut pengurus untuk mampu beradaptasi dengan baik di setiap lingkungan. Bergaul tidak hanya dengan sesama pengurus, hanya dengan mereka yang aktif mengkaji dan berdiskusi, atau dengan mereka yang terlihat ‘alim’ saja. Luaskan pergaulan dengan lingkungan sekitar sehingga terlihat jelas hal apa saja yang masih kurang atau harus diubah. Teringat catatan sekjen FSI 2012-2013 yang menggambarkan bahwa ajakan dakwah kepada orang-orang yang belum tersentuh ternyata dengan memasuki ‘dunia’ mereka dan mengajaknya ke ‘dunia’ yang seharusnya. Dengan demikian hal yang sama bisa dipraktekkan ke kelompok orang itu sendiri. Dakwah yang sistematis.
Jika suatu saat lelah menghampiri perjuangan ini, mari sejenak kita renungi firman Allah dalam kitab-Nya, bahwa “wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad:7). Mungkin lelah akan terasa, rasa tidak sanggup akan menghantui, tapi yakinkan dalam hati bahwa dakwah itu wajib, mengajak pada kebaikan itu kewajiban. Yakinlah, pertolongan Allah selalu bersama dengan orang-orang yang menolong agama Allah. Allahuakbar !
Wallahua’lam [nila]
Nilawati Pangulu
Keilmuan FSI Al Biruni

Menurut Saya Sukses Itu...

Ada baiknya sebelum melakukan segala sesuatu kita mulai dengan mengucapkan basmalah.. Agar yang kita lakukan menjadi berkah dan diridhai oleh Allah swt.
Bismillahirrahmanirrahim..
Ok.. langsung mulai aja dah.. ^^

Indonesia.. Negara yang menjunjung tinggi pancasila.. Indonesia.. Negara dengan polemik masalah yang begitu banyak dan beragam.. Negara yang saya begitu benci dengan segala tata cara pemerintahannya dan kebijakannya.. Namun, saya begitu mencintai keindahan alamnya..  Tapi saat ini saya tidak akan membahas ini.. mungkin dikemudian hari,hhe

Saya ingin mencurahkan apa yang ada di pikiran saya dan hasil membaca beberapa buku.. 

Kehidupan universitas di Indonesia.. Begitu banyak aktivitas yang terjadi dari pagi hingga malam.. Dan esoknya akan terulang kembali.. begitu juga seterusnya..

Menjadi mahasiswa bukan hanya sekedar status dan menjadi bergelar juga bukan sekedar memanjangkan nama dengan embel2 sarjana.. Saya menyayangkan kepada teman2 yang berpikiran seperti itu.. Ingin mendapatkan pekerjaan dan sukses setelah lulus.. Kepada mereka yang hanya memikirkan hasil akhir dan bukan proses itu sendiri.. Saya hanya ingin mengingatkan kalau sukses itu tidak hanya kecerdasan, kekuasaan,kekayaan dll.. Ambil contoh dari Qarun dan Fir’aun.. Qarun memiliki kekayaan yang berlimpah.. Kunci-kunci gudangnya enggak kuat dibawa oleh 7 orang yang kuat-kuat.. Bisa Anda bayangkan seberapa besar kekayaannya..hhe Sedangkan Fir’aun.. dia seorang raja yang cerdas dan memiliki kekuasaan yang luar biasa.. Dia sampai-sampai mengaku dirinya sebagai Tuhan.. Tetapi adakah diantara teman2 yang ingin menjadi seperti mereka.. Jelas enggak mau bukan..hhe Karena kita tahu akhir hidup mereka itu tragis.. walaupun hidup dengan kekayaan, kecerdasan ataupun kekuasaan..

Saya pernah ikut salah satu program analisa bakat oleh salah satu lembaga ternama.. Apakah anda pernah mendengar tentang 8 kecerdasan majemuk.. Ternyata yang paling tinggi dalam diri saya adalah kecerdasan intrapersonal dan interpersonal.. selanjutnya kecerdasan logika-matematika dan bahasa.. Sisanya standar.. Saya senang dengan hasilnya.. Karena semakin memantapkan prinsip hidup saya.. Bermanfaat bagi ummat..

Sejak dulu, saya senang mengamati kehidupan.. Saya selalu tertarik menjadi semacam life observer, sejak saya menemukan fakta bahwa sebagian besar orang tak seperti bagaimana mereka tampaknya, dan begitu banyak orang yang salah dipahami. Di sisi lain, manusia gampang sekali menjatuhkan penilaian, judge minded.. Saya suka mempelajari motivasi orang, mengapa ia berperilaku begitu, mengapa ia seperti ia adanya, bagaimana perspektifnya atas suatu situasi, apa saja ekspektasinya.. Ternyata apa yang ada di dalam kepala manusia seukuran batok kelapa bisa lebih kompleks dari konstelasi galaksi-galaksi.. Bagi saya kelas bukan sekedar ruang untuk belajar tapi juga university of life.. –sedikit mengutip dari edensor- ^^

Sukses menurut saya adalah kita berbagi dengan orang lain, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan hidup dengan melakukan segala sesuatunya karena Allah.. Hidup dengan MERIAH.. mengharapkan ridha Ilahi..^^

Nah,, di kampus inilah kesempatan bagi saya dan teman2 untuk berpikir terbuka, mengembangkan karakter dan bakat, membangun jaringan dan lain sebagainya..  Secara fitrah dan hati nurani, tentu kita ingin menjadi orang baik.. Tetapi pengaruh luar dari lingkungan secara tidak langsung mengubah pola pikir kita.. Selalu berpikir postif.. Jadikan diri IKHLAS dalam menghadapi hidup.. Lakukan yang terbaik dalam hidup.. Niatkan hanya untuk Allah swt.

Indra Waliyuda-Media Komunikasi Islam FSI Al-Biruni FT UNJ

Al-Biruni, Sahabat Sejatimu


Oleh : Dewi Ronestya (Departemen Kaderisasi FSI Al-Biruni)*


"Buat apa sih ngabisin waktu di organisasi? Apalagi organisasi yang keliatannya nggak fun gitu? Bukannya lebih keren kalo kamu masuk organisasi yang dulu kamu geluti? Masa dulunya berkawan sama club motor sekarang begini?" bila di tanya seperti itu aku selalu tersenyum sembari berkata "Kamu sendiri buat apa kuliah?" jika di jawab "Loh ya biar dapet ilmu dan title Sarjana dong!" aku tersenyum lagi "Di dunia? Kalo di akhirat nggak mau dapet title Sarjana juga?"  "Emang di akhirat ada title Sarjana juga?" Nah kalo kamu mau tau ikut aku yuk! Apakah jika terjadi seperti itu Anda akan diam sejenak, berpikir dengan konsekwensi apa saja yang bisa di terimanya apabila mengikuti organisasi yang kental akan nilai agama Islam?

Jika kita sudah mau dengan sendirinya, pintu organisasi tersebut akan selalu terbuka untuk semua orang yang mau belajar, termasuk menjawab tanda tanya kamu selama ini. Aku melanjutkan langkahku dengan teguh untuk masuk ke organisasi yang tak pernah aku bayangkan sejak dulu jika aku akan ada di dalamnya.

Dengan yakin aku memasuki mushola yg tidak jauh dari gedung kuliahku, terlintas segala yang pernah ku lakukan beberapa bulan yang lalu. Tak sedikitpun aku mengingat-Nya, bahkan dengan perasaan biasa saja aku melakukan dosa yang jelas-jelas di larang. Jika ada yang berkata tak ada manusia yang sempurna dan setiap manusia akan berbuat salah, ya namun bila bisa perbuatan salah iu di hindari dan di minimalisisr kenapa tidak.

Akupun masih merasa tak pantas berada di tempat ini. Tapi tak ada kata terlambat untuk belajar, dan pengalaman memang guru yang paling tegas. Waktu memang tidak dapat di putar dan biarkan masa lalu menjadi kenangan. Aku mungkin belum sepenuhnya mendapatkan hidayah itu, namun aku harus berusaha agar hidayah datang padaku di saat yang tepat dan indah.

Aku bertekat untuk lebih mengenal penciptaku dan seluruh alam semesta beserta isinya. Sangat banyak hal yang aku belum tahu tentang ajaran Islam. Namun yang membuatku terkejut adalah sikap pengurus yang tetap ramah denganku yang bahkan tidak berpakaian Syar'I, akupun sering mengaku minder dengan teman-teman di organisasi ini, tapi tanggapan mereka baik dan mereka bersedia mengajariku dan menjawab tanyaku. Ya itu yang membuatku nyaman berada di sini. Tidak ada yang membedakan antara senior dan junior, semua saling mengajari dan menghargai seperti seharusnya sebagai organisasi Islam.

Aku memang masih baru dalam belajar Agama, yah aku rasa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Dahulu aku bukanlah wanita yang baik, masa lalu kelam hingga saat ini memang belum dapat aku lupakan, terlebih saat orang-orang di sekitarku membahas orang-orang yang kini telah menjadi masa laluku, aku selalu teringat akan semua itu.

Jika kebanyakan di dalam organisasi ini memakai jilbab panjang, hingga saat ini aku bahkan belum sekalipun pernah mengenakannya. Jika kebanyakan di dalam organisasi ini membaca Al-Qur’an tiap selesai sholat, aku malah selalu membaca info-info duniawi. Bahkan sholat sangat jarang aku kerjakan. Namun entah mengapa aku berani langsung mengambil langkah untuk bergabung dengan pendakwah-pendakwah yang bisa di bilang pemikiran mereka tentang dunia fana sangat jauh dengan apa yang sampai sekarang masih aku tekuni, walau aku sebenarnya sudah sedikit tahu mana yang bermanfaat hanya di dunia dan mana yang bermanfaat di akhirat juga.

Ya hingga saat ini aku masih sangat senang mencari kebahagiaan duniawi, bahkan aku ingin mempersembahkan kebahagiaan duniawi kepada kedua orangtuaku. Teman-temanku yang hanya mengenal dunia mungkin bangga dengan apa yang ingin aku persembahkan kepada kedua orangtuaku, namun berbeda dengan teman-teman Al-Biruni, menurut mereka hmmm bukan mereka namun menurut ajaran Islam yang telah mereka pahami dunia ini memang fana semata, berbeda dengan akhirat dimana kita akan hidup abadi di dalamnya.

Informasi yang kurang seputar organisasi ini membuatku merasa sedikit terlambat untuk mengikuti segala kegiatan yang ada di sini. Awal masuk kampus ini aku memang sudah tertarik dengan organisasi Islam, namun aku sempat merasa segan karena penampilanku yang belum Istiqomah. Butuh waktu selama kurang lebih satu semester sampai aku bertekat tetap masuk ke organisasi ini meski belum berpakaian Syar’i dengan di dorong oleh rasa haus akan ilmu agama yang selama ini hanya sedikit aku ketahui tanpa ku pahami.

Awalnya aku tertarik dengan organisasi ini pada saat wawancara pra MPA, namun aku tidak tahu banyak lagi kabar tentang organisasi ini. Aku berharap dengan masuk ke sini akan menjadikanku wanita yang semestinya, wanita yang tidak menomor satukan ego untuk menguasai segala yang berhubungan dengan duniawi semata. Namun juga bisa menjadi wanita surga dan mengajak kedua orangtua ku ke surga. Aamiin Ya Robbal Alamin. Dan sangat aku sadari jika sangat amat banyak hal yang aku belum tahu tentang Islam.

Dan benar saja jika ini di namakan organisasi Islam, semua memperlakukanku dengan sama rata, tak ada perbedaan antara akhwat yang berjilbab dengan yang tidak berjilbab, yang membedakan hanya mereka telah mengetahui apa itu Islam, sedangkan aku belum. Perbedaan hanya bagaimana bahasa berbicara dan sikap mereka yang aku rasakan masih sangat kontras dengan aku yang sekarang. Organisasi ini memang tidak terlalu menggembor-gemborkan segala aktifitasnya kecuali memang aktifitas umum, berbeda dengan organisasi lain yang selalu ingin di anggap ada.

Acara di organisasi ini terkesan simple, bahkan terkadang jadi kurang di perhitungkan karena waktu yang mendadak dan tidak sempat mengumpulkan dana dan rencana yang benar-benar matang. “Ya namanya juga Indonesia”, mungkin kata-kata itu sudah tidak asing lagi, namun jika bisa mempersembahkan yang terbaik kenapa tidak?
Walaupun acaranya sangat seru namun akan lebih seru jika acara dapat berjalan sesuai rencana, karena selain semua acara dapat terselenggara dengan baik kita akan mendapatkan kepuasan bathin atas kinerja yang dapat berjalan dengan baik dan matang. Jadikanlah Indonesia Negara yang disiplin, agar pemerintah malu dengan rakyatnya yang tidak berkuasa namun dapat menguasai kemalasannya. Jika bukan di mulai dari diri sendiri lalu siapa lagi. Hmmm kok jadi politik, balik lagi ke bahasan.

Event memang selalu sangat bermanfaat namun bagi yang kebetulan datang karena sedang tidak ada jadwal kuliah lantas dapat mengikuti event tersebut. Namun bagaimana dengan yang tidak datang? Ya tidak ada pengulangan materi ataupun share catatan yang dapat di baca khalayak umum yang kebetulan berhalangan hadir. Namun begitu masih banyak juga materi yang sangat bermanfaat bagi pembaca yang di share di grup ataupun di dunia maya, dimana terkadang malah menimbulkan pro dan kontra.

Dan ternyata kehidupan jaman sekarang sangat tergantung dan banyak berhubungan dengan dunia maya, mungkin bila di pergunakan dengan baik dapat juga menimbulkan sangat amat banyak manfaat baik, namun bagaimana bila mempergunakan dunia maya dengan tujuan tidak baik bahkan dapat menimbulkan kerugian orang lain? Ya itu yang sekarang banyak di salah gunakan masyarakat luas.

Namun sepertinya peluang dakwah di dunia maya akan lebih menarik apabila di kemas dengan cara yang menarik pula dan tidak ada kesan menggurui, selain itu informasi dakwah akan lebih cepat sampai kepada masyarakat dan dapat menjangkau semua kalangan, bahkan kalangan remaja yang sedang mencari jati diri jangan sampai salah informasi karena berguru dengan situs yang penuh tanda tanya. Ya karena dakwah bukan hanya menjangkau teman dan kerabat saja, namun akan lebih bermanfaat luas apabila menjangkau semua kalangan.

Namun ternyata untuk berubah tak semudah apa yang selama ini aku bayangkan, untuk mendekatkan diri ke pencipta saja aku belum sepenuhnya paham. Hingga saat ini juga aku masih belum tahu mana yang ghibah dan mana yang di perbolehkan, mana yang hadits palsu mana yang lemah dan mana yang kuat. Mencari di internet pun ternyata tidak sepenuhnya dapat di percaya ada hadits-hadits yang ternyata sebelumnya tidak pernah ada dan di buat seakan-akan itu hadits asli yang kuat yang memang telah ada pada jaman Rasulullah SAW. Ya karena ghibah sebenarnya telah menjadi virus yang merajalela dengan pesat di seluruh dunia dan melekat erat di budaya dan gaya hidup manusia jaman sekarang yang entah bagaimana cara untuk memusnahkannya karena belum ada anti virus yang tepat.

Namun memang setiap organisasi pasti ada kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika ingin bergabung di organisasi Islam pun sangat amat banyak sekarang ini, namun manakah Islam yang sebenar-benarnya? Yang pasti adalah Islam yang menganut ajaran yang menjujung tinggi Al-Qur’an, Al-Hadits dan As-Sunah yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW dengan mempelajari hingga rinci dan mendasar. Ya di dunia yang fana ini memang lebih banyak manusia yang mencari kenikmatan duniawi semata tanpa memperhitungkan kehidupan abadi yang sebenarnya yaitu di akhirat kelak. Untuk itu bersyukurlah karena kita masih di beri umur untuk memperbaiki diri dan selalu ingat akhirat. Jazakumullah khairan katsiran.


*Pemenang lomba menulis FSI Al-Biruni, Juni 2012

SELAMAT DATANG REKONSTRUKTOR PERADABAN

Oleh : Eko Haryanto (Ketua FSI Al-Biruni masa jihad 2012/2013)

Sebentar lagi bangku-bangku kuliah di FT UNJ akan menemukan penghuni baru menjelang tahun akademik baru 2012-2013. Berbondong-bondongnya para pencari ilmu yang disebut mahasiswa ini-lah yang nantinya hidup di dunia kampus. Dunia baru pasca sekolah menengah atas. Pencarian baru, sistem baru, kultur belajar baru, progres baru, kenyataan baru dan dinamika baru.
Kampus sebagai “kawah candradimuka” mahasiswa, karena dari tempat ini awal perjalanan panjang tau pendek yang akan dilalui. Memasuki duni kampus adalah memasuki dunia dengan atmosfer yang baru dan berbeda dari suasana sebelumnya ketika masih berseragam putih abu-abu.

Untuk itu adaptasi adalah suatu ritual yang penting agar kita dapat menikmati dunia kampus yang penuh dengan warna-warni. Penyesuaian diri juga dilakukan untuk mendapatkan kenyamanan selama belajar di kampus agar beberapa tahun dikampus ini menjadi bermakna.

Dalam rangka penyesuaian diri tersebut akan banyak perubahan yang harus kita lakukan, Salah satu perubahan itu adalah tujuan kuliah.Untuk apa kita di kampus, mau jadi apa kita setelah dari kampus. Jangan kuliah jika kita hanya menginginkan suatu hari nanti menjadi orang kaya. Jangan kuliah jika tujuanya untuk tenar dan hidup dengan mapan. Kaya, tenar, mapan hanyalah sekelumit dari efek apabila kita bisa memaksimalkan dan mengoptimalkan masa ngampus kita, bukan menjadi tujuan utama. Jadi sebelum jauh terlambat mari renungkan dan luruskan dalam hati tujuan kita berada di kampus saat ini. 

Karena tidak semua orang bisa dengan mudah mengakses pendidikan tinggi. Data 2011 Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini baru 4,8 juta orang. Bila dihitung terhadap populasi penduduk berusia 19-24 tahun, maka angka partisipasi kasarnya baru 18,4 persen. Melihat hal ini masihkah kita tidak bersyukur ? masihkah kita akan menyiakan keberadaan kita di kampus ini ?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(Q.S. Ibrahim : 7)

Coba selami firman Allah diatas. Syukur di wujudkan dengan hati, lisan, dan perbuatan. Syukur dengan hati adalah mengetahui bahwa berbagai kenikmatan tersebut berasal dari Allah. Syukur dengan lisan adalah dengan memuji dan menyanjung memberi nikmat. Sedangkan bersyukur dengan perbuatan adalah dengan menggunakan kenikmatan tersebut dengan bersikap loyal dan rendah hati terhadap Allah SWT. Agar Allah menambahkan nikmatnya kepada kita.

Sekali lagi tanyakan dalam hati kita masihkah kita mengingkari nikmatnya ? kita mulai dari dalam hati dan fikiran kita bahwa kita tidak bisa menyiakan keberadaan kita di kampus. Optimalkan kehadiran kita di kampus ini. Jadikan diri kita bermakna menjalani warna-warni hidup di kampus beberapa tahun kedepan.

Di dalam tiap rajutan jaket Almamater kita ada kristalisasi keringat dan air mata para petani, para tukang becak, para nelayan. Yang bahkan anak-anak mereka takut bermimpi untuk bisa lulus SD.Maka Nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Takdir telah digoreskan dan tinta telah mengering. Syukurilah. Maknailah. Menjadi mahasiswa berarti siap merekonstruksi peradaban !

Hidup mahasiswa !