Ahlan wa Sahlan Sahabat FSI Al-Biruni..

Evaluasi 1 Syawal 1433 H

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan. Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala. Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa! Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya. Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut. Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan. Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.


Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius. Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga! Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar. "Bismillah.. ." ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini. Kalau memang bocah itu "bocah beneran" pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah. Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya. "Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?" tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya. Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman. "Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa," jawab Luqman dengan halus,"apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu.."

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

"Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian
yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu
mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan
pada sebelas bulan diluar bulan puasa? Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami?

Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang
menangis? Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit
menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan
hingga kematian menjemput ajal..?! Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus? Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian...!?"

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela. Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar "sangat" menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

"Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri? Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan 'Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula. Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami...!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih? Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat? Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa? Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan..., jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan 'tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak...."

Wuahh..., entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi
kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.

Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya! Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan. Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi. Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.

Ditengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman! Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang! Luqman tidak mau main-main. Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi. Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar. Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati. Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya. Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.


dikutip dr wisata hati - yusuf mansyur - indo spiritual.com

AL- FATIHAH

Menurut Tafsir al-Amtsal, Tafsir al-Mizan, Tafsir al-Forqon, dan Uyun Akhbar al-Ridha diceritakan bahwa :

"...Jika seorang hamba b'kata Bismillaahirrahmaanirrahiim, Allah swt. b'kata,
" Hambaku memulai dengan nama-Ku. Wajib bagi-Ku utk menyempurnakan sgla urusannya dan memberkati dia dlm sgla keadaannya."

Pada saat hambanya b'kta, Alhamdulillaahi rabbil 'aalamin, Allah swt. b’kta,
“Hamba-Ku memuji-Ku dan mengakui bahwa segala nikmat yang ada padanya b’asal dri-Ku. Sgla bencana Aku palingkan darinya dgn anugerah-Ku. Aku minta kalian b’saksi bahwa akan Aku tambahkan padanya nikmat dunia dan akhirat, akan Aku tolakkan darinya bencana akhirat sebagaimana Aku lepaskan darinya bencana dunia.”

Ketika hamba-Nya b’kata, Arrahmaanirrahiim, Allah swt. b’kta,
" Hamba-Ku b'saksi bahwa Aku Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku minta kalian b'saksi, akan Aku curahkan bagiannya dri limpahan Kasih-Ku dan akan Aku berikan haknya dri lumbung karunia-Ku."

Ketika hamba-Nya b'kata, Maaliki Yawmiddiin, Allah swt. b’kta,
” Aku minta kalian b’saksi sebagaimana ia mengakui bahwa Aku adlh Penguasa pd Hari Pembalasan, akan Aku terima segala kebaikannya dan akan Aku ampuni segala kesalahannya.”

Jika hamba-Nya b’kta Iyyaka na’budu, Allah swt. Akan b’firman,
“ Benar kalian b’saksi, sungguh akan Aku balas dia untuk segala yang menentangnya dlm beribadat kepada-Ku.”

Ketika hamba-Nya b’kta wa-Iyyaaka nasta’in, Allah swt. b’firman,
“ Kepada-Ku hamba-Ku memohon pertolongan. Kepada-Ku ia m’cari perlindungan. Aku minta kalian b’saksi, sungguh Aku akan menolong urusannya. Aku akan melindunginya dalam segala segala kesusahannya.

Saat hamba-Nya b’kta, Ihdinash shiraatal mustaqiim sampai Wa ladh-dhaaliin…


Allah swt. Akan b’kata, “ Inilah hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Aku sudah memenuhi p’mintaan hamba-Ku. Aku sudah m’brikan kpdnya apa yang ia harapkan dan Aku telah menenteramkannya dri apa yang ia takutkan.”


Tujuan ku..

Tujuan ku..
           Tujuan ku…

Pertama melangkahkan kaki di Kampus UNJ, Agus ditanya oleh dosen mengenai apa yang akan dilakukannya di Kampus Hijau itu. Dengan polos agus menjawab “Saya akan buat seluruh mahasiswa UNJ ikut mengaji, pa!”. Sebuah perhatian yang mulai pudar dari dosen kita akhir-akhir ini tentang arti penting sebuah tujuan.  Dan dari kejelasan tujuan itu pulalah yang mengantarkan Agus berprestasi di kampus yang sudah mulai tampak tua…

            Tujuan, sering kali dijadikan sebuah parameter berhasil tidaknya seseorang mengejar prestasi. Semakin jelas tujuan kita, akan semakin jelas cara, waktu, dan dana yang dibutuhkan sehingga beberapa bagian sisa jumlah dari ketiga komponen tersebut bisa dialokasikan untuk hal lain guna mendukung tujuan awal kita.
           
Kuliah tanpa tujuan ibarat memasuki rimba ilmu tanpa peta dan akan lebih berbahaya lagi jika mengabaikan Al Qur’an sebagai kompas kehidupan. Faktanya kita terkejut saat dihadapkan sederet fungsi dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Dan akan semakin gamang, ketika melebur bermasyarakat jika belum siap serta tidak tahu tujuan kita sebenarnya. Karena kelak kitalah yang turut andil menentukan arah bangsa ini mau kemana, kehancuran ataukah kebangkitan..?

            “Tujuan hidup saya adalah untuk tunduk pada perintah Alloh; berjuang dan berjihad dijalan Alloh. Seluruh upaya ini hanyalah bagi kepentingan Agama Islam. Saya berusaha untuk meninggikan kaum muslimin. Dengan dukungan Alloh serta bantuan spiritual pasukan-pasukan muslim yang utama, saya pasti meluluhlantakkan orang – orang kafir yang terdahulu dan akan datang”.

Seperti itulah Muhammad Al Fatih dengan perahu yang melintasi daratan, begitu terobsesi1 menaklukkan konstantinopel dengan menjebol benteng konstantinopel yang terkenal dengan sebutan tak tertaklukkan (unpregnable)

“Kota konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan” (H.R Ahmad bin Hanbal Al Musnad 4/335)

            Dengan perencanaan, kura-kura bisa lebih cepat berlari dari kelinci, tujuan menjadi lebih relistis, hambatan-hambatan bisa terlampaui. Kita jadi memiliki cara berfikir yang terstruktur. Disinilah akan tergabung antara mimpi dan pikiran. Disini keberanian dan kemauan belajar kita diuji. Wallahu a’lam.

http://fsialbiruni.multiply.com/journal/item/13/Tujuan-ku..